Skip to main content

Amida.

Disusurinya jalanan setapak yang rindang pepohonan. Perjalanan menuju tempat yang sama setiap pagi. Teduh. Hatinya yang retak disejuki semilir angin. Sebuah mobil menghampiri. Meminta ijin perkenalan. Bertanya nama. "Saya Amida,".

Dimintanya ia menaiki mobil. Ditolak. Sang pria memohon. Ia tetap menolak. Dilihatnya waktu berlari, dia terlambat. "Saya antar kamu sampai tujuan, tolong naik. Saya bermaksud baik,". Dikejar waktu dan pikiran yang tidak di tempat yang tepat, dia masuk.

Mobil melaju, obrolan mengalir. Sebuah tawaran diajukan di perjalanan. "10 juta di muka", ujar Si Pria. Hati Amida lepas dari tempatnya. Dibukanya pintu mobil. "Saya bukan perempuan seperti itu.", bisiknya seraya keluar dari mobil.

Di tempat tujuan dia terisak. Bahu seorang teman dijadikannya sandaran. Berceritalah tentang kisah singkat di perjalanan. Mendetil. Satu hal yang Teman tak ketahui, diam-diam Amida menyesal menolak tawaran tersebut.

Comments

Popular posts from this blog

Sendu

Dia berlari dari hidupnya. Setiap hari, entah mabuk hingga lelap atau tertawa penuh kebodohan. Bahkan berpindah dari satu lelaki ke lelaki lainnya.
Aku lelah. Menghabiskan uang yang aku bahkan tak punya lagi untuk melakukan hal yang bahkan aku sendiri benci. "Mau pesan minum lagi? Atau mau makan?" tanyaku pada lelaki disampingku.
"Aku lebih memilih kita segera pergi dari sini dan menghidangkan kamu sebagai makanan penutupku." senyumnya penuh arti.
Bagaimana kalau aku menginginkan lebih dari ini? Menginginkan lebih dari hubungan aneh yang aku bahkan tak tahu apa namanya. Bagaimana kalau aku lelah terus mencari dan menjadi tidak lebih baik untuk memuaskan dan menyenangkan kalian, lelaki-lelaki busuk yang aku benci dan anehnya, lelaki-lelaki yang paling mudah kucari? "Makan dulu ya? Kamu dan aku belum makan sejak kemarin."
"Anything you want, mi lady."
Haruskah kamu jadi lelaki yang memanggilku dengan panggilan itu? Panggilan yang kupikir akan diucapkan o…

Hina dan Dina.

“Could we meet up, Love?” sapanya dari ujung telepon. Aku termenung. Mau apa lagi, pikirku. “Jam berapa?” tanyaku kalem. “Around ten? I have a meeting first. I’ll pick you up at Coffee Palace?” “Okay.” Klik. Aku buang teleponnya jauh-jauh. Entah bagaimana dia selalu mampu mendatangkan debaran dalam setiap kata yang di ucap. -- “Where are you?” “At the bathroom. Have you arrived yet?” “Yes. Aku di depan,” aku melangkah pelan, seperti tak ingin. Seperti ada yang salah jalan ini menuju dia. Ku buka pintu mobil, dia tersenyum. Bule sialan. Wanginya selalu membunuh indera penciumanku. Too hypnotizing. “Where are we going?” tanyaku setelah tersenyum. Palsu, tentu saja. “I need to pick up my things at the villa.” “What villa?” delikku tajam. “The one I just bought a week ago. Just outside the city. We’ll go pick up some things. I have a flight to catch tomorrow morning.” Ujarnya seraya tersenyum. “Make it quick. I wanna be home before twelve.” “Yes, love.” -- Mataku jelalatan saat dia berju…